Hikmah
Raja itu Disebut Hati
14 January 2024
2,529 Dibaca
Pernahkah kita merenung, mengapa tangan bergerak mengambil sesuatu, kaki melangkah ke suatu tempat, atau mata menatap sebuah objek? Siapakah yang sebenarnya memberi komando atas semua aktivitas fisik tersebut?
Dalam pandangan spiritual dan psikologi Islam, tubuh manusia diibaratkan sebagai sebuah kerajaan. Di dalam kerajaan tersebut, ada pemimpin mutlak yang titahnya tidak bisa ditolak. Pemimpin itu adalah Hati (Qalb).
Filosofi Hati sebagai Raja
Imam Al-Ghazali sering mengumpamakan hati sebagai raja, sedangkan anggota tubuh lainnya—tangan, kaki, mata, telinga—adalah prajurit atau rakyatnya. Sifat alamiah prajurit adalah patuh. Mereka tidak memiliki kehendak sendiri selain mengikuti perintah sang raja.
Jika hati dipenuhi oleh kebaikan, kejujuran, dan kasih sayang, maka tangan akan ringan membantu orang lain, lisan akan terjaga dari kata-kata kotor, dan kaki akan melangkah ke tempat-tempat yang baik. Sebaliknya, jika "sang raja" korup—dipenuhi dengki, dendam, dan kesombongan—maka "prajuritnya" akan melakukan kerusakan di muka bumi.
Menjaga Sang Raja
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang masyhur:
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, fokus utama perbaikan diri bukanlah sekadar memoles penampilan fisik (kerajaan luar), melainkan memperbaiki kondisi hati (sang raja). Jangan biarkan raja kita sakit atau mati karena racun-racun kehidupan duniawi.